Kamis, 17 Mei 2012

Cerpen (Tatapan Masa Lalu)


Tatapan Masa Lalu
 
Tatapannya mengingatkan sebuah harapan masa lalu. Harapan yang dulunya seakan membuat hati tercengang dengan keistemewaan. Sempat terlupakan setelah lambaian tangan seakan-akan mengatakan sebuah tanda perpisahan untuk selamanya. Akhir dari sebuah penantian telah berada di balik fatamorgana hidup yang pilu. Teriris sakit, bagaikan mata pedang sang raja menusuk dada prajuritnya.
Mengapa???? Haruskah yang terlupakan itu teringat kembali dengan sebuah tatapan mata? Rasanya bumi terus berputar, namun mengapa kerisauan itu kembali datang? Haruskah kucari dan kutemukan jawaban dari penantian yang memilukan ini?
Seorang perantau yang memulai hidupnya sebagai mahasiswi baru di salah satu universitas ternama di kota Makassar. Risa adalah nama dari gadis muda itu. Dia adalah salah satu mahasiswi di Fakultas Pertanian. Dengan keyakinan penuh, dengan restu kedua orang tuanya, dia mencoba mengadu nasib dengan melanjutkan studinya di kota besar itu.
Betapa malang nasib gadis itu, tak lama berdomisili di kota orang, dia mendapatkan perlakuan yang kurang menyenangkan di rumah tempat ia menumpang hidup. Jadwal kuliah yang sangat padat di awal semester, membuatnya sering mendapat caci maki dari orang rumah. Karena sibuk dengan aktivitas kuliah, diapun tak pernah berfikir masalah percintaan. Tak sedikit temannya yang heran dengan sikapnya.
Setiap kali mendapat pertanyaan seputar percintaan, dia selalu kesal dan tak jarang memarahi temannya yang melontarkan pertanyaan itu. Namun, yang namanya perempuan, pasti tetap memiliki hati dan perasaan. Bukan karena benci ataupun marah, tapi karena aktivitas padat yang membuatnya seperti ini.
Dia sering kali menjadi bahan olok-olokan teman-temannya. Karena dari sekian teman dekatnya, hanya Risa yang masih berstatus lajang. Namun, karena tak ada sedikitpun niatnya untuk sementara waktu memikirkan hal itu, olokan teman-temannya pun tak dijadikan masalah.
Amanah dari orang tuanya lebih diutamakan. Usaha untuk memperoleh nilai tinggi di kampus dan juga usaha memperbaiki nama baiknya di tempat tinggalnya sekarang adalah prioritas utamanya. Namun, waktu berjalan tak terasa hingga dia berada pada keadaan yang sangat sulit.
Saat berjalan ditengah sengatan terik matahari yang begitu menyilaukan, langkah kakinya membawanya di sebuah taman dekat gedung yang masih asing baginya. Lalu lalang orang-orang asing bagi matanya. Tak disangka, dalam perjalanannya, tanpa sengaja dia melihat lelaki dan menatap matanya. Saat tatapan itu tertancap, hatinya bergetar seakan membisikkan sebuah kalimat. Tak tau mengapa, hatinya sakit dan menitikkan air mata. Dia pun sadar, ternyata mata itu adalah mata lelaki yang membuatnya pertama kali mengenal rasa cinta. Kisah itu terjadi lima tahun yang lalu.
Berawal dari pertemuan itu, dia mulai merasakan cinta yang lama dia tidak rasakan. Walaupun sebenarnya, tidak pernah ada hubungan apa-apa antara dia dengan lelaki itu, namun rasa cinta yang selama ini dia pendam, kembali tumbuh. Bagaikan bunga mawar yang kembali mekar di atas penderitaan hidup.
Rasa penasarannya sangat tinggi kepada lelaki yang ditatapnya di taman. Di luar aktivitasnya sebagai seorang mahasiswi, dia mendapatkan tugas baru yang harus dipecahkannya, yaitu mencari tau tentang lelaki yang dia lihat waktu itu. Tak sedikit waktu yang dia luangkan untuk aktivitas barunya ini.
Hasil yang didapat membuatnya kegirangan. Di tengah pengejar ilmu lainnya, dia berjalan sambil mencari buku di perpustakaan umum di kampusnya. Dia duduk dan membaca buku seorang diri di meja yang besar kala itu. Maklumlah, suasana perpustakaan pagi hari itu masih sepi oleh pengunjung. Suasana sunyi itu membuatnya sangat serius membaca buku. Namun, beberapa selang waktu tak lama berdiam diri dengan buku bacaannya, hatinya terasa sakit dan matanya berkaca-kaca. Dia tak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya.
Dia pun meletakkan buku di meja sambil melihat disekelilingnya. Bukan hayalan atau sebuah mimpi. Dia mencubit tangannya untuk memastikan dia dalam alam nyata. Ternyata yang membuatnya merasa aneh adalah adanya lelaki yang duduk di dekatnya. Dengan rasa yang tak karuan, dia kembali memegang buku dan berusaha berkonsentrasi kembali.
Tak hayal, lelaki itu mengajaknya bicara. Dengan suasana hati yang tak dia mengerti, dia memandang lelaki itu dan mengajak lelaki itu bicara. Suasana hangat pun tercipta dengan sendirinya. Setelah lama bercanda gurau dengan perbincangan-perbincangan yang menghangatkan suasana, lelaki itu baru menyadari ternyata Risa adalah teman sekolahnya di SMP dulu.
Dion adalah nama akrab dari lelaki itu. Dia adalah salah satu mahasiswa di Fakultas Teknik. Mereka tak menyangka bisa bertemu lagi dalam suasana baru yaitu di bangku kuliah yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menggelar status sebagai mahasiswa setelah lulus di bangku SMP.
Sosok Risa yang ada dihadapan Dion sekarang ini sangat berbeda sekali dengan gadis kecil yang dikenalnya dulu. Gadis itu sekarang sudah mangenakan jilbab rapi. Manis sekali. Rasa-rasanya Dion telah jatuh cinta pada Risa saat pertama kali bertemu dengan Risa.
Dia tak menyangka kalau perempuan yang ditemuinya itu adalah sosok gadis kecil yang dekil dan lugu di zamannya. Namun, baginya sejarah tak mungkin berulang. Sosok itu sudah berubah menjadi gadis dewasa.
Pertemuan mereka seakan-akan telah melupakan aktivitas lainnya. Mereka tak menyadari ternyata waktu berputar sangat cepat. Pukul 13.00 menunjukkan waktu sholat dhuhur. Tak ingin membiarkan pertemuannya hanya berakhir sampai disitu, merekapun bertukar nomor handphone.
Sambil berjalan meninggalkan perpustakaan, langkah mereka menuju pada mushollah tak jauh dari perpustakaan itu. Disinilah pertemuan hari itu diakhiri. “sampai ketemu di lain waktu”, kata Dion kepada Risa saat mengakhiri pertemuannya.
Sebelum masuk kembali ke fakultasnya untuk mengikuti kuliah, baik Risa maupun Dion, melaksanakan kewajibannya sebagai umat beragama.
Di tengah perjalannya ke ruangan kuliah yang jaraknya lumayan jauh dari perpustakaan, Risa tampak bahagia. Hal ini terlihat saat dia senyum-senyum sendiri. Nampaknya hatinya sedang merasakan roman-roman cinta.
Dalam kegamangan dan putus asa menghadapi kerasnya kehidupan sebagai perantau, Risa menemukan cahaya yang menerangi jalannya. Cahaya itu ditemukannya setelah bertemu dengan Dion.
Sesampainya di ruangan kuliah, Risa memperlihatkan raut wajah yang berbeda kepada teman-temannya. Merasa aneh dengan sikap Risa saat itu, Ina dan beberapa teman dekatnya berkata, “sepertinya ada yang beda dari seorang Risa!!!”, dengan sebuah senyuman manis yang dilontarkan Risa, sebuah artian yang bisa membahasakan suasana hatinya saat itu.
Perputaran waktu hari itu terasa sangat cepat. Aktivitas kuliah pun telah berakhir. Sebelum pulang ke rumah, Risa dan teman-temannya mengerjakan laporan praktikum secara berkelompok. Setelah itu, barulah mereka kembali ke rumah atapun pondokan masing-masing.
Di atas angkot dalam perjalanannya pulang, Risa kembali memikirkan Dion yang ditemuinya di perpustakaan tadi. Dia masih saja sulit untuk mempercayai pertemuan itu. Belum juga menghitung hari setelah bertemu dengan Dion, Risa langsung merasakan kerinduan mendalam.
Malam hari yang dingin, ketika sebagian besar orang meringkuk di dalam selimut hangat mereka, tampak seorang Risa sedang larut dalam kerinduan dan kebahagiaan. Dia berusaha membuka kotak yang berisi beberapa album foto lama yang dia miliki. Dia mencari foto seorang Dion yang masih dia simpan sejak SMP. Diapun menemukan selembar foto yang sudah terlihat kusam yang dia cari. Rasa rindunya pun sedikit terobati setelah melihat fotonya bersama Dion.
Cengiran di wajah Risa sesekali terlihat kala melihat foto yang dipegangnya. Refleks, Risa lalu membuka jendela kamarnya ditengah dinginnya malam. Dia lalu menengok keluar jendela dan menatap langit yang penuh dengan kilauan bintang. Seakan-akan dia sedang menatap wajah seorang Dion sembari mengucapkan “selamat malam”.
Belum menutup jendela kamarnya, Risa lalu duduk di meja belajar dan mengambil buku diarinya serta sebuah pena. Mengadu kepada sebuah buku bisu, dan merangkai sebuah kalimat yang mewakili suasana hatinya saat itu, merupakan aktivitasnya sebelum tidur.
Ditempat  yang berbeda, jauh dari tempat tinggal Risa. Tampak seorang Dion sedang resah memikirkan pertemuannya dengan Risa siang itu. Entah kenapa, perasaannya tak bisa dikontrol saat bertemu dengan Risa. Tak dapat memejamkan matanya, padahal sudah larut malam. Pikirannya selalu tertuju pada sosok Risa.
Deringan jam weker menunjukkan pukul 05.00 pagi. Waktu sholat subuh tiba. Risa pun membuka mata. Dia merasa kelopak matanya menempel lekat sehingga susah untuk dibuka lagi. Dia mendengar suara deringan handphonenya. Matanya langsung membulat penuh dan kesadarannya pulih seketika saat melihat nama pemanggil di handphonenya.
Ternyata Dion yang menelponnya. Melalui telpon, Dion berbicara dan berusaha mengingatkan Risa untuk segera bangun melaksanakan sholat subuh. Tampak raut wajah seorang Risa yang sangat bahagia. Bagaimana tidak, harinya dimulai dengan suara yang memberi nasehat dari pujaan hatinya.
Risa berdesis kagum dengan sikap Dion saat itu. Dalam via telepon, Dion menawarkan diri menjemput Risa di rumahnya. Dengan rasa malu, Risa pun mengiyakan tawaran Dion.
Sang surya sudah indah menatap dunia. Waktunya Risa berangkat ke kampus. Sambil menunggu kedatangan Dion, dia menatap wajahnya sembari bersolek menyapu wajahnya yang polos tanpa make up sedikit pun.
Tak lama, diluar sana terdengar suara raungan gas mobil. Dengan rasa penasaran, Risa mengintip keluar.
Risa melongok saat melihat Dion membuka pintu mobilnya.
Keluar dari kamar dan segera menghampiri Dion yang kedatangannya sudah lama dinanti.
“hai…!!!” Risa menyapa Dion dengan malu. “silahkan duduk…tunggu bentar ya…”
Dengan senyuman khasnya, Dion menganguk dan segera duduk di sofa empuk di ruang tamu.
Dion senyum seketika ketika tahu ternyata Risa masuk untuk mengambilkan secangkir teh hangat untuknya.
“silahkan diminum” kata Risa sambil meletakkan secangkir teh di meja.
            Sambil meyeduh teh, Dion berbasa-basi. Dan pembicaraan mengenang masa SMP itu kembali berlanjut, mendominasi sebagian pembicaraannya selama menemani Dion menyeduh tehnya.
            Tak lagi menyebut namanya. Dion segera beranjak dari tempatnya dan mengajak Risa untuk segera berangkat.
“cantik…waktunya berangkat ke kampus”
Refleks Dion mengeluarkan kata itu. Maklumlah, hari itu Risa memang kelihatan sangat cantik.
            Mendengar Dion, Risa tersenyum menyembunyikan wajahnya yang sudah berubah warna. Hidungnya mekar, kembang kempis menahan rasa malu dan gembira yang meluap dari dalam hatinya.
Dilain sisi, Dion segera membuka pintu mobilnya untuk Risa. Senyum yang tidak biasa ditunjukkan oleh keduanya.
Di dalam mobil, kembali tercipta suasana romentisme karena alunan lagu. Namun, Risa menyadarkan diri kalau yang diharapnya tidak mungkin terjadi.
“kesibukan Risa sekarang apa???” Dion, membuka pembicaraan dengan pertanyaan.
“seperti sekarang, hanya kuliah, kerja tugas….cuma itu kok!!!!selebihnya Cuma bumbu yang bersifat relatif”. “kalau kamu??” kata Risa membalas pertanyaan Dion. “ya biasalah….mahasiswa. kurang lebih seperti kamulah” kata Dion. Pembicaraan itu tak berlangsung lama.
Suara deringan handphone Dion memaksanya untuk menghentikan pembicaraan sejenak. “halo…knapa??” kata Dion menghentikan deringan telponnya. “lagi dimana sekarang???” kalimat itu sontak terucap dengan kemesraan. Ternyata yang menelpon Dion saat itu adalah Jasmin, kekasihnya. Dengan lembut dan penuh rasa hormat kepada Risa, Dion tak mengeluarkan kata-kata mesra dan  menjawab “lagi di perjalanan ke kampus”. Karena tak mau berlama-lama, Dion pun segera mengakhiri pembicaraannya dengan Jasmin.
Suasana tegang kembali terasa. Risa lalu memecingkan matanya heran. Wajah Dion seketika berubah setelah menerima telepon. “telepon dari siapa??” tanya Risa  heran melihat perubahan raut wajah Dion. Tidak ingin ada kebohongan, Dion menjawab ‘dari Jasmin, pacarku…”.
Mendengar ucapan Dion, wajah Risa yang sebelumnya berseri, sentak berubah. Menahan nafas sebelum berbatuk-batuk, tidak bisa lagi bernafas lega. Risa menatap kesal ke arah Dion.
Hatinya sakit, pedih dan teriris oleh kata-kata Dion.
Merasa bersalah dengan Risa. Dion menelan ludah gugup. Tentu dia tidak bisa menjelaskan alasannya mengapa dia memberi harapan kepada Risa sementara dia masih mempunyai hubungan dengan Jasmin.
Alasan sederhana sebenarnya. Risa seorang gadis yang dia kenal lama. Manis. Berjilbab. Mempunyai tatapan teduh. Menjaga diri. Pintar dan pengertian. Selain itu, Dion juga menganggap Risa sebagai adik perempuannya.
Tak ada lagi kata atau suara yang terdengar kecuali suara musik di dalam mobil serta raungan gas kendaraan di sepanjang jalan. Baik Risa dan Dion merasa bersalah dengan keadaan saat itu.
Sesampainya di kampus. Tak panjang kata yang Risa ucapkan saat turun dari mobil. “makasih…”. Menutup pintu mobil dan langsung berjalan ke arah  kampusnya.
Tak ada lagi senyum yang dia tampakkan. Dia merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Penantiannya membuatnya lebih sakit dari sebelumnya. Kemarahannya tersulut ketika mendapat olokan dari temannya di perjalanan menuju kelas.
Di sisi lain. Di dalam mobil, Dion meraung geram. Dia mengibaskan kepalanya ke sandaran kursi. Bukan menyesali perasaannya yang tumbuh kepada Risa. Tapi, menyesali waktu yang baru menyadarkanya.
Sungguh perih rasanya jika orang dicintai sudah punya tambatan hati. Inilah yang dirasakan seorang Risa.
Kejenuhannya hari itu membuat waktu berlalu terasa lama. Sedangkan dia tak bisa menghindarkan pikirannya dari seorang Dion. “Baru juga merasakan kebahagiaan sehari, kejadiaannya sudah seperti ini” kata Risa dalam benaknya.
Saat beranjak dari kendaraannya, Dion tak berhenti menyesali kejadian saat itu. Bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Di satu sisi, dia tak ingin menyakiti Jasmin. Tapi, di sisi lain rasa cintanya begitu besar kepada Risa. Dilema cinta pun dia rasakan.
Langkah kakinya tak pasti. Dengan menggendong ranselnya, dia mengambil telepon genggam yang tengah berdering. Telepon dari Jasmin. Dion pun segera mengangkatnya. Singkat cerita. Dalam pembicaraannya, Jasmin ingin bertemu dengan Dion siang itu. Tapi, karena masih dilema dengan perasaannya, Dion mengarang cerita sebagai alasan untuk menolak pertemuan itu.
Jasmin yang tidak tau menahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, diapun tidak memaksa. Walaupun hasratnya sangat besar untuk bertemu sang kekasih.
Cerita ini berlanjut hingga beberapa hari. Risa dan Dion tidak pernah bertemu lagi. Begitu pula dengan Jasmin dan Dion.
Memikirkan kesulitan hidupnya, Risa tak pernah lalai untuk melaksanakan ibadah. Dia selalu berdo’a dan berserah diri kepada-Nya. Itulah yang menjadi pegangannya setiap saat.
Seperti itulah dia. Diam-diam mencintai lelaki dengan sangat dan menyimpan sakit tak berperi saat harus mengetahui bahwa orang yang selama ini disanjungnya, telah menjadi milik orang lain. Sedikit pun dia tak berniat menyesali atau berhenti mencintai lelaki itu.
Merasa ada yang berbeda dari kekasihnya, Jasmin tak berdiam diri. Dia berusaha menghubungi Dion yang akhir-akhir ini sulit untuk dihubungi. Diwaktu yang bersamaan, Dion juga berusaha menghubungi Risa yang sudah beberapa hari menghilang.
Untuk kesekian kalinya, Dion gagal. Namun, itu tak mengurungkan niatnya untuk tetap ingin bertemu dengan Risa. Risa tak pernah mau mengangkat deringan handphone dari Dion. Hatinya masih saja keras bagaikan batu karang terhempas ombak.
Kekerasan hati Dion ternyata tak sekeras hati Risa. Jasmin berhasil menggoyahkan kekuatan hati seorang Dion. Dion pun memenuhi permintaan kekasihnya. Tapi, entah apa yang dia pikirkannya sehingga mau bertemu dengan Jasmin.
Jasmin berada pada pilihan yang sangat sulit. Saking kesalnya saat berhadapan dengan Dion yang tak lagi seperti sediakalanya.
Antara ingin bertanya lebih lanjut pada Dion atau meninggalkan tempat itu, membuat Jasmin termangu. Lalu dengan muka kesal, dia melangkah ke arah toilet tempat dia dan Dion bertemu. Pikirannya kacau sekarang. “Dion suka kepada seseorang. Siapa?? Kenapa dia merahasiakannya dariku?” muncul pikiran negatif dalam dirinya.
Saat Jasmin ke toilet, Dion mulai berfikir tentang tindakan yang harus dia ambil. Sembari memainkan handphonenya di atas meja, dia memutar otaknya untuk membuat suatu keputusan yang tidak merugikan dirinya dan orang lain. Suatu yang sama juga telah dipikirkan seorang Jasmin yang tak tahan lagi dengan sikap Dion akhir-akhir ini. Pemikiran yang sangat dewasa.
Tak tahu apa yang terjadi, sentak senyuman Dion terpancar saat melihat kedatangan sang kekasih. Dengan kedewasaannya, mereka memulai pembicaraan.
“saya minta maaf atas sikapku akhir-akhir ini. Mungkin kamu terlanjur marah dan kesal dengan sikapku. Sebenarnya saat ini saya tengah berada dalam masalah yang sangat menyayat hati. Tak bisa lagi ku ungkapkan dalam kata. Terlalu sakit untuk diingat namun akan lebih sakit lagi jika dipendam. Penyesalan memang datangnya di belakangan. Namun, saya berusaha untuk tidak menyesal. Ini hanya masalah waktu. Sekali lagi saya minta maaf. Saya tak tau lagi bagaimana harus menghadapi semuanya. Terserah dari kamu. Masih ingin mempertahankan hubungan ini atau tidak. Tapi, kalau saya pribadi sebenarnya sudah berada di ujung tanduk.” Kata Dion panjang lebar.
Heran mendengar ucapan Dion. Jasmin kembali bertanya, “maksud dari ucapan kamu apa???”. Tanpa ada yang disembunyikan sedikit pun, Dion berusaha untuk jujur sejujur-jujurnya.
“beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan teman SMP saya. Sebenarnya permasalahannya bukan itu. Tapi, entah mengapa saat pertama bertemu dengannya, saya merasakan adanya suatu getaran. Sebelumnya saya bingung, kenapa ini terjadi. Akhirnya saya tahu ternyata saya memendam rasa cinta terhadap orang itu”.
Dion merasa sangat bersalah kepada Jasmin. Dia takut menyakiti hati Jasmin. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Refleks. Air mata wanita yang ada di depannya itu mengalir tanpa henti. Saat itu, Dion merasa sangat bersalah.
Kata maaf tak henti-hentinya dilontarkan oleh Dion. Berusaha menghibur Jasmin dengan mengusap air matanya.
Sungguh di luar dugaan. Bukan sedih karena harus melepaskan Dion untuk mencintai orang lain. Namun, dia menangis karena kejujuran dari seorang Dion. Diapun angkat bicara setelah tangisannya sedikit reda.
“sebenarnya hal ini sudah lama ingin saya katakan. Namun, keterbatasan komunikasi membuatku sulit untuk berbicara jujur. Di luar dari masalah yang membuatmu risau, sebenarnya saya menghadapi masalah yang lebih berat. Saya menyadari hal ini tak akan selesai jika tidak ada kejujuran. Kali ini saya berusaha untuk berbicara jujur”.
Dion tercengang mendengar ucapan Jasmin. Lanjut cerita…
“selama ini saya sudah mendua. Tak tahu apa yang membuatku tega berbuat ini. Tapi saya benar-benar minta maaf.”
Hentak suasana menjadi hening di akhir pembicaraan Jasmin. Dion tak menyangka hal itu terjadi padanya. Kesal, marah dan benci menjadi satu. Mereka jadi saling melemparkan pertanyaan. Untuk semenit, mereka gencatan senjata.
“saya berusaha keras untuk tidak membuatmu sakit. Namun, sangat di luar dugaan. Di luar sana kamu juga menjalin hubungan dengan yang lain.” Dion melepaskan kekesalannya.
Diluar permasalahan pasangan kekasih. Di dalam kamarnya, Risa nampak begitu murung. Memang tidak mudah untuk melepaskan seseorang yang dicintai. Tidak mudah pula menyingkirkan kenangan dengan orang itu. Hampir semalaman Risa berkutat dengan foto dan buku hariannya. Rasa sayang membelenggu  di hati wanita ini.
Masalah terus bergulir antara Dion dan Jasmin. Tak ada yang ingin mengalah. Mereka berusaha mempertahankan ego masing-masing. Hingga pada akhirnya, Dion disadarkan untuk segera mengambil keputusan. “Demi kepentingan bersama, kiranya hubungan ini tidak usah dilanjutkan kembali. Walaupun sebenarnya ini bukan keputusan awal yang ingin saya ambil. Tapi, mendengar kata-katamu tadi, saya sadar kalau hubungan ini memang harus diakhiri secepatnya.” Kata Dion dengan kedewasaannya.
Tak ingin berlama-lama, Jasmin pun mengiyakan keputusan Dion. “jadi, mulai saat ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi selain teman”, katanya mempertegas keputusan itu. Sesaat setelah itu, Dion pun mengajak Jasmin pulang dan segera mengantarkannya pulang ke rumah.
Setelah kejadian itu, Dion merasa sedikit tertolong. Beban batin yang dirangkulnya sedikit berkurang. Berusaha untuk menghubungi Risa adalah jurnal pertamanya.
Yang namanya batu, memang sangat sulit untuk dipecahkan. Butuh waktu lama dan tenaga yang kuat. Namun, Dion tak pernah berniat untuk mengusungkan niatnya. Magnet cintanya sudah sangat kuat.
Risa yang saat itu tak bisa lagi memendam beban hidupnya, memutuskan untuk membuka diri dengan teman-temannya. Segudang masalah telah memenuhi hati dan pikirannya. Tidak itu masalah kuliah, tugas, masalah orang rumah, ditambah lagi masalah perasaannya dengan Dion. Diapun mencurahkan isi hatinya kepada teman dekatnya, Ina.
“Terus terang saja, aku sudah lama memendam rasa dengannya. Tapi, saat ini kukurungkan niatku karena aku tau kalau dia sudah mempunyai kekasih.” Ina tak mengeri apa yang diucapakan Risa. Pembicaan mengalir seperti air, hingga Ina betul-betul mengerti permasalahan yang dihadapi temannya saat ini.
“jadi benar, saat ini kamu sedang jatuh cinta?”
Kali ini, Risa tersenyum. Senyum yang sulit ditebak maksudnya. Antara jawaban ya atau tidak. “Seharusnya kamu cari tahu siapa orang yang benar-benar dicintainya saat ini”, kata Ina mamberi nasehat.
Usahanya untuk terus mencari keberadaan Risa saat ini terus berlanjut. Capek mengirimkan pesan via SMS yang tidak pernah ada balasannya. Telepon yang tak pernah direspon, membuat Dion mengambil cara lain. Dia memutuskan untuk mencari Risa di kampus keesokan harinya.
Butuh waktu beberapa jam untuk melihat sinar  matahari pagi. Ketika saat itu datang, Dion tak menyia-nyiakan keadaan. Segera bangun dan bersiap melaksanakan tugasnya sebagai seorang mahasiswa. Namun sebelumnya, dia ke kampus Risa untuk mencari informasi tentang keberadaan Risa.
Raungan gas mobilnya seketika membawanya ke lokasi kampus Risa. Membuang rasa malu. Pertanyaan demi pertanyaan dia berikan kepada setiap orang yang ditemuinya saat itu. Singkat cerita. Saat bertanya tenang keberadaan Risa, sepintas berjalan, Ina mendengarkan suara yang menyebut nama Risa.
Dengan keyakinan, Ina pun menghampiri Dion yang sedang berpusing-pusing ria mencari Risa. “maaf, kalau nggak salah, tadi anda mencari dan menyebut-nyeut nama Risa ya?”. Ina mendekat.”iya…, anda kenal dengan Risa ya?” kata Dion menjawab pertanyaan Ina.
“perkenalkan, nama saya Ina…teman dekatnya Risa” kata Ina memperkenalkan diri.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dion pun menceritakan permasalahannya saat ini. Dengan pembicaraan singkat, Ina pun mengerti dan menceritakan semuanya kepada Dion tentang perasaan Risa saat ini.
“dia pernah bilang, ada seorang pria yang sangat menyebalkan. Namun, di luar itu semua, dia sangat m,encintai lelaki itu, kuduga itu kamu. Dia menceritakannya dengan raut wajah kesedihan. Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian berdua. Tapi, dari raut wajahnya, Risa memanng terlihat sangat sedih.”
Mendengar cerita Ina, semangat Dion untuk mencari dan bertemu dengan Risa semakin besar.
Diluar dugaan. Hari itu, Risa sama sekali tidak menampakkan wajahnya di kampus. Tidak masuk sehari saja, teman dan dosennya sudah mengira yang tidak-tidak. Padahal waktu itu Risa sedang meringkuk kesakitan di kamarnya. Dia tak bisa bangun.
Entah apa yang membuatnya seperti itu? Masih belum bisa melupakan rasa kekesalannya dengan Dion. Dalam benaknya dia berkata, ”bukankan memang begini cinta seharusnya? Memberikan senyum untuk dia yang kita cinta meski diam-diam menumpuk sedih sangat sangat banyak di dalam hati. Aku yakin, seperti itulah cinta.”
Tak dapat dihitung berapa jam, berapa pagi, siang dan malam yang harus dihabiskan Risa untuk menangis menyesali pertemuannya dengan Dion. Hanya kegelapan, bintang, pena dan buku diari yang menjadi saksi bisu kesedihan yang tengah ia rasakan saat ini.
Keesokan harinya, Dion kembali ke kampus Risa. Berharap hari itu akan terjadi pertemuan antara mereka. Namun, apa yang dia dapat? Kegagalan yang kesekian kalinya ada di depan mata.
Dia kembali bertemu dengan Ina. Sebelum bertanya tentang kehadiran Risa di kampus hari ini, Ina telah mendahuluinya dengan memberikan informasi baru tentang Risa. “tadi pagi saya diinfokan oleh keluarga Risa kalau kemarin Risa dirujuk ke rumah sakit yang tak jauh dari rumahnya”. Dion terkejut. Tanpa satu pun kata yang tersirat dari bibirnya, dia lalu pergi dan tancap gas mobil entah kemana arah dan tujuannya.
Diluar dugaan. Bukannya ke rumah sakit menjenguk Risa, Dion malah tancap gas menuju kediaman Jasmin. Sungguh tindakakn yang menyayat hati. Bukan apa-apa. Hanya sekedar ingin meyakinkan dirinya kalau ternyata dia betul-betul sudah putus dari Jasmin.
Hanya untuk mendapatkan sebuah kepastian, Dion rela menunggu Jasmin hingga beberapa jam. Niat untuk menemui Jasmin tidak terbantahkan. Masalah baru datang setelah kedatangan Jasmin.
Dia tidak menyangka ternyata orang ketiga dalam hubungannya dengan Jasmin adalah Fadli, teman dekatnya. “dasar penghiyanat” katanya dalam hati. Saat itu Jasmin terlihat ketakutan saat melihat Dion di beranda rumahnya. Maklumlah saat itu dia datang bermesra-mesraan dengan Fadli.
Gemuruh di dalam hati Dion semakin keras terdengar. Dia tidak harus berkata apa pun. Dia tidak berhak menghakimi Jasmin dan Fadli. Dia sudah melakukan apa yang dia bisa untuk menghindari hal seperti ini. Dia sudah berniat melupakan Jasmin.
Tak mengucapkan apa pun. Kemarahannya merasuk, menggantikan kepedihannya. Dion bangkit dari kursi dan melangkah pergi.
Jauh di dalam lubuk hatinya. Dia memikirkan keadaan Risa yang terbaring lemah di rumah sakit. Kerinduannya dengan Risa membawanya sekejap ke dalam hayalan. Seandainya waktu bisa berputar, rasanya aku ingin mengulang kisah indah bersama Risa.
Di sebuah kamar dengan suasana haru. Risa dalam ketidakberdayaan, tetep saja memikirkan Dion yang tak menampakkan batang hidungnya. Dia sangat merindukan sosok Dion. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Namun, tanpa dia sadari ternyata Dion mengetahui hal itu.
Senja itu telah berganti  malam. Menutup kerinduan hati yang lela. “dimana Dion saat ini?” benaknya berbicara. Kesendirian di kamar itu membuatnya takut.
Kaget. Suara ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar. Rasa takut, membuatnya menangis. Bukan suster ataupun dokter yang datang. Dengan samar-samar. Dia melihat sosok pria dengan pakaian rapi namun tetap trendi. Belum sempat melihat wajah orang itu. Risa lau berbalik badan berusaha menghindarkan pandangannya dari orang itu.
“Risa….”, suara itu nyaring.
Mendengar ada yang menyebut namanya, Risa berbalik badan dan memandang orang yang memanggilnya. Diluar dugaan, orang itulah adalah Dion.
“kenapa kamu menangis?” kata Dion saat menatap wajah Risa.
Risa hanya bisa memandang wajah Dion tanpa mengucapkan apa-apa. perasaanya saat itu tak bisa diwakili dengan kata-kata. Hanya senyuman manja yang diperlihatkannya di balik air mata.
Tak melihat seorang pun yang menjaga Risa malam itu, Dion pun memutuskan untuk menemani Risa malam itu. Seperti orang biasa bagi Risa. Dion menunjukkan rasa pedulinya. “bagaimana perasaanmu sekarang? Apa lebih mendingan?” pertanyaan itu terucap sembari mengambil segelas susu di atas meja.
Belum menjawab pertanyaan Dion. Risa lalu meminum susu yang diberikan oleh Dion. Tentunya Dion membantu memegang gelas. Kemudian, Dion mengambil sebuah apel dan mengupasnya. Duduk disamping ranjang tempat Risa berbaring.
Hentak. Risa angkat bicara walau sebenarnya masih sulit. “makasih sudah datang. Dapat info dari mana kalau saya sedang terbaring sakit disini? Padahal sekalipun saya tak pernah mengangkat ataupun membalas SMS kamu. Saya minta maaf karena merepotkan.” Pandangannya tak pernah lepas dari wajah Dion. Ditengah kesunyian malam itu, tercipta suasana hangat.
Dion pun menjawab pertanyaan Risa. “saya mendapatkan informasi dari Ina, teman kamu. Waktu itu, saya memutuskan untuk mencari kamu di kampus. Ku lakukan itu karena saya tak tahu lagi bagaimana caranya bisa bertemu dengan kamu. Telpon nggak diangkat, SMS nggak dib alas. Jadi kuputuuskan untuk mencarimu. Tapi, bukan yang kuharap yang kudapatkan. Selama dua hari berturut-turut, tapi sekali pun bertemu dengan kamu. Hingga akhirnya saya bertemu dengan Ina. Dia menceritakan semua yang terjadi denganmu. Saya pun memutuskan untuk datang kesini.”
“Jadi, kamu sudah tahu semuanya???” tanya Risa dengan suara lemah. “iya…saya sudah tahu semuanya. Tentang kamu, tentang perasaanmu, tentang kehidupanmu serta penantian cintamu selama ini”. Dion menjawabnya sambil menyuap Risa dengan buah sudah di kupasnya.
Rasa sakit, malu, kesal, bahagia menjadi satu dalam hati dan raga Risa saat itu. Berusaha mengalihkan pembicaraan. Risa yang tak tahu permasalahan yang tengah dihadapi Dion, menanyakan keadaan Jasmin yang sebenarnya sudah menyandang status sebagai mantan Dion dua hari yang lalu.
“Dia baik-baik saja”. Hanya itu yang dikatakan oleh Dion. Menyambung pembicaraan, Risaa kembali melontarkan pertanyaan seputar Jasmin. Walaupun sebenarnya membicarakan hal itu sangat menyakitkan baginya.
“sejak kapan kamu berpacaran dengan Jasmin? Pasti dia itu cantik, pintar, dan sangat sayang sama kamu? Iya kan….cieeeee…!!!!” kata Jasmin panjang lebar.
Tidak ingin membicaran Jasmin lagi. Apalagi membicarakannya kepada Risa yang sedang terbaring sakit, Dion pun berdiri dan berjalan kearah jendela kamar. Sementera di ranjang, mata Risa selalu mengarah kepada Dion.
“malam yang begitu indah. bulat terlihat sempurna. Bintang bertabur dimana-mana. Rasanya ingin memetik satu bintang untuk orang tercinta”. Mendengar ucapan Dion, hati Risa terasa sakit. Dipikirannya, orang yang dimaksud Dion adalah Jasmin. Padahal itu salah besar.
Seketika Dion balik melihat Risa yang kelihatannya sangat kesal dan jenuh. Diapun melangkah pelan ke arah Risa. “mau tengok keluar?”, ajak Dion. Merenung. Tak lama, terdengar suara Risa yang mengiyakan ajakan Dion.
Segera mingkin, Dion menarik kursi roda yang berda tak jauh dari pintu kamar. Dia pun membantu Risa untuk bangun dan memapahnya ke kursi roda. Agak kesakitan. Namun, sekejap hilang Dion mendorongnya ke dekat jendela.
Hening.
Sesekali terbesit senyum manis Risa saat melihat langit. Rita tak pernah merasakan kebagaiaan seperti malam itu sebalumnya. Bersama orang yang dicintainya, dia menikmati malam di bawah kilauan bulan dan bintang.
Memegang kedua pundak Risa. Dion berbisik halus dan mengatakan. “lihat bintang itu. Sinarnya sangat terang dibanding yang lainnya. Seandainya saat ini bintang itu jatuh, aku akan berdo’a semoga aku mendapatkan pendamping hidup yang sangat aku cintai.”
Mendengar, hal itu, suasana hati Risa mulai terbakar api cemburu. Kesal. Dia berusaha menggerakkan tangannya dan memindahkan rangan Dion yang ada dipundaknya. Sadar diri. Dion tetap  belum mau menceritakan yang sebenarnya kepada Risa.
Berusaha menghibur Risa yang kelihatannya sangat kesal.
“sudah larut malam. Saatnya untuk kembali beristirahat”, kata Dion sambil mendorong kursi roda ke arah tempat tidur. Sesampainya di dekat peristirahatan, Dion pun mengangkat Risa sekuat tenaga ke atas tempat tidur. Walau sedikit berat, itu tidak membuat Dion menyerah. Rasa cintanya kepada Risa lebih kuat dibanding apapun.
Saat itu, Risa merasa sangat nyaman. Dia memejamkan matanya sembari meraskan kehangatan cinta yang dalam dari seorang Dion.
Tiba di atas pembarinagnnya.
Dian segera menutupi tubuh lemah Risa dengan selimut hangat. Duduk di samping Risa. Dion, memegang lembut tangan Risa. Mengusap kepala Risa yang saat itu berusaha keras memjamkan matanya.
Bahagia, terharu, kehangatan, kesakitan, dan ketakutan yang dirasakan Risa malam itu. Bagaimana tidak? Disatu sisi orang yang ada di samping adalah orang yang sangat dia cintai. Disisi lain, orang yang ada di sampingnya adalah kekasih orang lain. Itulah yang dia pikirkan sepanjang malam itu.
Di luar semua itu. Terlihat suasana yang sangat bahagia di malam yang sunyi sengap. Hanya cahaya bulan dan bintang yang dijadikan penerang. Hanya kehangatan yang dirasakannya.
Suasana hening.
Cahaya bulan dan bintang, sesaat menjadi cahaya matahari. Tak sadar, Dion tidur dalam posisi duduk dan menyandarkan kepalanya di dekat kepala Risa. Sinarnya yang terang membuat mata perih. Berusaha membuka mata yang menempel. Risa tersadar. Dia melihat Dion yang masih tidur pulas di dekatnya.
Dengan rasa cinta. Sontak. Dia mengusap rambut Dion.
Merasakan sesuatu yang aneh dikepalanya, dia pun terbangun. Tak sempat melepaskan usapannya, Dion mengarahkan tangannya ke kepala. Diluar dugaannya, dia memegang tangan Risa yang masih mengusap kepalanya. Saat itulah Dion menyadari kalau ternyata Risa benar-benar mencintainya.
Mereka terdiam. Suasana hening. Sambil memegang tangan Risa, Dion hanya menatapnya lekat-lekat. Risa mangalihkan pandangannya saat teringat Jasmin. Risa tersenyum sembari memecahkan lingkaran udara aneh diantara mereka.”maaf!!” kata itu terucap bersamaan.
Tak lama setelah itu, keluarga tempat Risa menumpang datang. Tidak semuanya. Hanya salah seorang tante dan neneknya. “bagaimana keadaanmu sekarang? Siapa orang ini?” kata neneknya dengan pandangan sinis dan penuh kecurigaan. “perkenalkan, nama saya Dion…saya teman kampus Risa yang sekaligus teman sekolahnya di SMP dulu”, kata Dion dengan santai.
Risa menambahkan. “ini teman saya, dia yang menemani saya semalaman disini. Sebenarnya niatnya hanya untuk menjenguk sebentar, tapi karena melihat saya sendiri, dia memutuskan untuk menemani saya”. Risa menjelaskan panjang lebar.
“sepertinya sudah ada yang menemani kamu sekarang. Saya permisi pulang. Ada kuliah pagi”. Dion bergegas mengambil tasnya yang da di sofa. “mari tante…”, kata terakhir yang diucapkan Dion sebelum keluar kamar rumah sakit itu.
Tak ada kalimat special yang diucapkan Dion kepada Risa. Tapi, tatapan matanya membisikkan segudang artian. Entah apa maksud dari tatapannya. Hanya Risa yang mengerti itu.
Kepergian Dion membawa bahaya bagi Risa. Keadaannya yang masih lemah, tak mengurungkan kemarahan neneknya. Caci maki diterimanya. Tak sanggup menahan sakit, dia pun berderai air mata.
Sudah semalaman di rumah sakit, ibu Risa tak kunjung datang. Tak tahu alasan pasti. Namun, Risa sangat mengharapkan kedatangan orang tuanya. Dengan rasa kasian, tantenya mangambil makanan untuk Risa. Tapi, yang namanya orang sakit, pasti tidak bisa untuk makan banyak. Apalagi suasana hatinya saat itu kurang baik karena baru saja mendapatkan caci makian.
Jangankan makan, menelan ludah saja dilakukannya dengan susah payah dengan keadaannya saat itu. Di tambah lagi obat yang baru saja diantarkan oleh suster. “keadaannya sudah agak mendingan. Saat ini dia cuma butuh ketenangan. Jangan membuat dia berfikir keras. Buat hatinya selalu merasa bahagia.”kata suster kepada nenek dan tente Risa.
Memaksakan diri memakan sesuap nasi dan seteguk susu sebelum meminum obat. Tak ingin berlama-lama disana. Tante dan neneknya segera pulang setelah melihat Risa meminum obatnya.
Selama beberapa detik, Risa hanya terpaku. Matanya menatap kearah jendela. Dia masih tak mempercayai kedatangan Dion semalam. Otaknya masih saja meragukan kenyataan yang terhampar di depannya semalam.
Harapannya saat itu, dia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Alhasil. Hanya menghitung menit, terdengar ketukan pintu dari luar. Hantinya kembali mekar saat melihat ibu dan adiknya datang. Suasana ramai pun tak terelakkan.
Di luar sana. Dion nampak lain. Hatinya masih berkecamuk rasa senang dan resah. Sesampainya di rumah, Dion meletakkan tasnya di tepat tidur sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dikamarnya. Mengambil handphone dan berusaha menghubungi Risa.
“halo…” kata yang memulai pembicaraannya. “Ris, bukannya saya ingin cepat-cepat meninggalkan kamu disana, tapi nggak tahu kenapa, kedatangan keluargamu membuatku tak merasa nyaman.” Dion mendecah.
“ngaak apa-apa kok, saya mengerti. Ohhh iya, terimah kasih sudah mau menemaniku semalaman.” Risa mengucapkannya dengan suara pelan.
Dion menyarankan agar Risa lebih banyak beristirahat. Panjang cerita dalam via telepon antar mereka. Namun, Risa tetap saja berhati ikhlas. Di pertengahan pembicaraannya, Risa mengirimkan permintaan maafnya kepada Jasmin.
Dion, tetap belum mau menceritakan yang sebenarnya. Wajahnya menggelap kala itu. Matanya berkilat, terkejut mendengar ucapan Risa. Rasa bersalahnya semakin besar kepada Risa. Sesegera mungkin Dion mengakhiri pembicaraannya setelah mendengar Risa menyebut-nyebut nama Jasmin.
Kasihan dengan Risa. Dalam keterpurukan perasaannya. Dia masih saja memikirkan kebahagiaan orang lain. Terakhir dia mendengar suara Dion, hanya memlalui via telepon hari itu. Rasanya perih jika harus memikirkan nasib cintanya.
Dion satu-satunya pemuda yang mengajarkan cinta, sekaligus juga yang menorehkan luka pertama di hatinya. Dion yang membawanya bermimpi, sekaligus memusnahkan mimpinya. Jiwa Risa seketika hancur kalah harus melepaskan Dion untuk wanita lain. Inilah yang selalu membuatnya sakit. Padahal di luar sana, Dion sebenarnya sedang berjuang untuk menyadarkan Risa kalau sebenarnya dia juga sangat mencintai Risa.
Tiga hari telah berlalu. Kesehatan Risa sudah membaik dan siap untuk kembali manjalankan aktivitas kesehariaannya. Dengan bermodalkan sebuah angkot, Risa pun sampai ke kampusnya. Tak ada yang tahu kalau Risa akan ke kampus hari itu. Bahkan Ina sekalipun.
Ketidakjelasan perjalanan cintanya masih saja berlanjut.
Dunia memang sempit. Langkah kakinya hentak berhenti saat bertemu dengan Ina dan beberapa temannya di perjalanan menuju ruang kuliah. Tak berkata apa-apa. Ina mangulurkan tangannya dan segera menarik Risa jauh dari teman-teman lainnya.
“apa kamu sudah bertemu dengan Dion??”, tanya Ina dengan pelan. “iya sudah…waktu beberapa hari yang lalu dia datang ke rumah sakit menemui saya. Katanya dia pernah bertemu dengan kamu. Informasi tentang saya, semuanya dia tahu dari kamu. Gila ya…semua curhatanku diberi tahu sama dia. Kan sebelumnya saya sudah pernah bilang kalau Dion sudah punya pacar. Ina… Ina…”, Risa menyesali perbuatan Ina.
“ok…soal itu saya minta maaf. Kalau yang di rumah sakit saya juga sudah tahu. Tapi, setelah itu, setiap hari Dion kesini mencari kamu. Dua hari lalu, kemarin, bahkan mungkin hari ini,!! Saya juga tak mengerti apa maksudnya. Kelihatannya sangat penting sampai-sampai dia tidak ingin membicarakannya melalui telepon.”jelas Ina.
Wajah Risa tegang. Menarik nafas dalam-dalam. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya setelah mendengar ucapan Ina. Berlagak aneh. Diam dan memutar tubuhnya, lalu melangkah meninggalkan Ina.
Langkah kaki membawanya ke depan pintu toilet tak jauh dari ruang kuliahnya. Masuk ke dalam toilet dan berdiri di depan cermin yang terpampang lebar. Menatap wajahnya dan mengelus-elus dadanya yang terasa sakit. Jantungnya berdentam-dentam memukuli dadanya. Rasa penasarannya semakin pekat menyelubungi hatinya. Apa sebenarnya yang ada dipikiran seorang Risa??..
Keluar dan melangkah entah kemana. Sulit untuk dimengerti. Seleret kerinduan menelusup ke hati Risa. Kerinduan yang begitu menyakitkan. Mengusakkan dada dan mengguncangkan emosinya. Betapa dia amat merindukan sosok Dion. Sesekali matanya terlihat berkaca-kaca.
Dia tak menyangka kalau ternyata Dion masih saja mencarinya. Walauoun sebenarnya dia belum tahu pasti tujuan Dion yang setiap hari ke kampus untuk menanyakan tentang dirinya.
Harinya dikampus dipenuhi dengan rasa penasaran. “Hingga sore hari tiba, Dion belum juga datang”, Risa mendecis dalam hati.
Saat itu, Dion sedang bermalas-malasan di rumah. Dia tak pernah keluar kamar. Bisa dibilang, dia sudah putus asa. Sulit untuk bertemu. Ketika Risa berjuang mencari kunci yang membuatnya penasaran, Dion yang memegang kunci itu malah mengurung diri dikamarnya. Masalah yang tak tahu kapan ditemukan ujungnya.
Keesokan harinya. Risa menatap jam dinding dengan resah. Sudah hampir pagi. Diapun bergegas mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh. Karena hari itu merupakan hari libur, setelah beribadah Risa segera mengenkan pakaian olahraga dengan jilbab yang rapi. Keluar rumah dengan meregangkan pinggangnya yang terasa kaku. Berlari-lari kecil ditengah dinginnya pagi. Langkah kecil itu membawanya ke sebuah taman kecil.
Nafas Risa tertahan ditenggorokan, saat melihat lelaki yang duduk di sudut taman itu. Sepertinya orang itu tidak asing lagi baginya. Begitu besar rasa penasaran Risa hingga dia berjalan menuju tempat lelaki itu. Ternyata sosok Dion yang ada disana.
Dion mendongak saat merasakan seorang telah berdiri di depannya. Senyumnya mengembang saat melihat Risa. Setitik rasa iba menelusup ke dalam hatinya saat melihat perempuan itu tampak lelah. Wajahnya sedikit pucat. Mata indahnya tampak merah dan sayu. Tanda-tanda kelelahan itu tak mampu menyamarkan kecantikan Risa dengan jilbab rapinya.
Tatapan itu kembali dirasakan Risa. Hatinya sakit dan kembali berderai air mata. Tak merasa canggung lagi dihadapan Dion. Tak menyangka, Dion juga merasakan hal yang sama. Dia berdiri dan berusaha menghibur Risa yang sudah tak berdaya lagi. Dia menyuruh Risa untuk duduk didekatnya.
Sembari melepas rindu dan menenangkan Risa, Dion memulai pembicaraan.
“sebenarnya saya sudah tahu semuanya. Maaf kalau saya selalu membuatmu merasa bersalah. Sudah lama saya ingin menceritakan ini semua, tapi keadaanmu membuatku cemas jika harus menambahnya dengan kekonyolan yang telah terjadi. Saya dan Jasmin sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kami sepakat untuk itu setelah aku bertemu denganmu. Jangan menganggap dirimu orang ketiga. Aku juga baru tahu ternyata diluar sana sebelum kamu datang ke dalam kehidupanku, Jasmin seingkuh dengan orang lain.”
            Risa yang tadinya menundukkan pandangan, tiba-tiba mengangkat dagunya tinggi dan menatap wajah Dion. Lanjur cerita…
Permintaan maaf Dion membuat tubuhnya seolah disiram air es. Dengan kedilemaan hatinya, Dion mengungkapkan isi hatinya kepada Risa. “I Love U”, kalimat itulah yang mewakili isi hatinya.
Tak sannggup menahan rasa bahagianya. Risa menyandarkan kepalanya dipundak Dion. Telinganya menangkap suara detakan jantung yang belum juga melambat. Serasa dunia pagi itu milik mereka berdua.
Suasana hangat tercipta disana. Mentari pagi menjadi saksi bisu ikatan cinta mereka. Namun, mereka tak mau seperti pasangan lain di luar sana. Berbicara panjang lebar membuat mereka berfikiran dewasa.
“saya memutuskan untuk tidak berpacaran. Cukup bagiku mengetahui kalau ternyata penantianku selama ini tidak sia-sia. Ternyata cinta  ini juga dirasakan olehmu. Kalau memang kita berjodoh, pasti akan dipertemukan sampai saatnya nanti. Setidaknya hubungan kakak-adik bisa dijadika icon untuk saling menyayangi. Aku juga cinta kamu”. Itulah yang diucapkan Risa kepada Dion dengan suara manja.
Dion pun setuju dengan keputusan Risa.
“Jangan pernah sedikit pun berniat untuk melupakan tatapan masa lalu, karena dia akan kembali menghiasi masa depanmu”. Dion mengucapkannya sambil tersenyum sembari mengolok dan berkata….
           “Apakah ini artinya aku harus balik mengejarmu?????”


(Goresan Pena  Khaeriyah , 2010)