Jumat, 11 Mei 2012

Laporan Reaksi Tanah (pH Tnah)


I. PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Larutan tanah adalah sifat tanah yang mengandung ion–ion terlarut yang merupakan hara tanaman. Konsentrasi ion–ion ini sangatlah beragam, tergantung pada ion terlarut serta jumlah bahan pelarut.
Reaksi tanah yang penting adalah masam, netral, dan alkalis. Dimana dalam pernyataan ini didasarkan pada jumlah ion H+ dan OH- dalam larutan tanah. Bila dalam larutan ditemukan ion H+ lebih banyak dari ion OH, maka reaksi tanah tersebut adalah masam. Bila ion H+ sama dengan atau seimbang dengan ion OH maka reaksi tersebut adalah netral. Dan jika ion OH- lebih banyak dari ion H+ maka reaksi tersebut disebut reaksi alkalis.
Reaksi tanah berdasarkan atas dua unsur dimana sumber keasaman tanah adalah asam–asam organik dan anorganik serta ion–ion H dan Al dapat ditukar misalnya koloid dan sumber alkinitas atau kebasahan dimana hasil hidrolisis dari ion dapat tukar atau garam–garam alkalis.
Seperangkat faktor kimia tertentu menentukan pH yang terukur pada tanah. Oleh karena itu, penentuan pH tanah adalah salah satu uji yang paling penting yang dapat digunakan untuk mendiagnosis masalah pertumbuhan tanaman. Misalnya, daun yang berwarna hijau pucat pada tanaman yang sakit dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Apabila pH tanahnya serendah 5,5 atau kurang, maka penyakit tanaman itu mungkin tidak disebabkan oleh defisiensi besi, karena senyawa–senyawa besi mudah larut dalam keadaan asam. Apabila pH
tanah adalah 8, maka kemungkinan adanya defisiensi besi yang perlu diperhitungkan sungguh–sungguh karena senyawa–senyawa besi sangat sukar larut pada tanah yang pH–nya 8.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu melakukan percobaan reaksi tanah (pH) untuk mengetahui jenis reaksi dan nilai pH tanah Inseptisols pada berbagai lapisan tanah.
1. 2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum reaksi tanah (pH) adalah untuk mengetahui nilai pH pada tiap lapisan tanah Inseptisols.
Kegunaan dari praktikum reaksi tanah (pH) adalah sebagai bahan informasi kepada pembaca khususnya mahasiswa tentang jenis–jenis tanah yang dapat menentukan jenis suatu komoditas yang dapat dikembangkan pada tanah tersebut.
 II. TINJAUAN PUSTAKA
2. 1 Defenisi Tanah
Tanah dapat dipandang sebagai suatu sistem tiga fase, yaitu terdiri dari fase padat, cair dan gas. Fase padat terdiri dari campuran bahan–bahan mineral (anorganik) dan bahan–bahan organik. Bahan–bahan mineral merupakan kerangka dasar tanah. Pori–pori berada diantara butiran dari fase padat. Pori–pori terisi oleh fase gas dan fase cair. Fase cair berada sebagai selaput tipis sekeliling butiran fase padat dan sebagian lagi menempati pori–pori yang berukuran kecil. Pori–pori yang berukuran besar terdiri dari fase gas bila tidak terisi air. Di antara gas dalam tanah dan gas dalam atmosfir terjadi pertukaran. Kegiatan biologik seperti respirasi dan dekomposisi (perombakan) bahan organik, memerlukan oksigen dan menghasilkan karbondioksida, mengakibatkan adanya proses difusi oksigen dari udara ke dalam tanah dan karbondioksida dari tanah ke udara (Pairunan, 1997).
2. 2 Tanah Sulfat Asam dan Permasalhannya
Reaksi tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dalam pH. Nilai pH menunjukkan konsentrasi ion hydrogen (H+) di dalam larutan tanah. Makin tinggi kadar larutan H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Pada tanah–tanah yang masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedang pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+ dan bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu  mempunyai pH netral (Anonim, 2008).
            Larutan mempunyai pH 7 di sebut netral, lebih kecil dari 7 masam dan lebih besar dari 7 basis atau alkalis. Pada keadaan netral konsentrasi ion H+ sama besar dengan konsentrasi ion OH- dan pada keadaan alkalis sebaliknya. Reaksi tanah menunjukkan tentang keadaan atau status kimia tanah. Status kimia tanah mempengaruhi proses–proses biologik, seperti pertumbuhan tanaman. (Pairunan, 1997).
            Kemasaman tanah ditentukan oleh dinamika ion H+ di dalam tanah, ion H+ yang terdapat dalam suspensi tanah berada keseimbangan dengan ion H+ yang terjerap. Akibat dari proses itu, maka dikenal 2 jenis kemasaman yaitu kemasaman aktif dan kemasaman potensial. Kemasaman aktif disebabkan oleh ion H+ di dalam larutan tanah, sedangkan kemasaman potensial disebabkan oleh ion H+ dan Al3+ yang terjerap pada permukaan kompleks jerapan ( Hardjowigeno, 2003).
            Reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pada reaksi tanah yang netral, yaitu pH 6,5 - 7,5 maka unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak. Pada pH tanah kurang dari 6,0 maka ketersediaan unsur–unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium dan molibdium menurun dengan cepat. Sedangkan pH tanah lebih besar dari 8,0 akan menyebabkan unsur–unsur    nitrogen, besi mangan, borium, tembaga dan seng ketersediaannya relatif lebih sedikit (Anonim, 2008).
Di daerah rawa–rawa sering ditemukan tanah–tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sulfat masam (cat clay) karena banyak mengandung asam sulfat. Di daerah yang sangat kering (arid) kadang–kadang pH tanah sangat tinggi (pH lebih dari 9,0) karena banyak mengandung garam Na (Hardjowigeno, 2003).
2. 3 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Reaksi Tanah
Reaksi tanah atau yang disebut dengan pH tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yang salah satunya adalah terutama di daerah industri, antara lain sulfur yang merupakan hasil sampingan dari industri gas, yang jika bereaksi dengan air akan menghasilkan asam sulfur, dan asam nitrit yang secara alami merupakan komponen renik dari air hujan. Hujan asam juga terjadi sebagai akibat meningkatnya penggunaan dan pembakaran fosil–fosil padat yang menimbulkan gas–gas sulfur dan nitrogen, yang kemudian bereaksi dengan air hujan (Hanafiah, 2004)
III. METODOLOGI PERCOBAAN   
3. 1 Tempat Dan Waktu
Praktikum percobaan reaksi tanah dilaksanakan di laboratorium fisika tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Universitas Hasanuddin, Makassar. Berlangsung pada hari Selasa, 9 November 2010, pukul 11.00 WITA sampai selesai.
3. 2 Alat dan Bahan
Adapun bahan–bahan yang digunakan pada praktikum reaksi tanah adalah sampel tanah terganggu tanah inceptisols, aquadest, tissu rol, kertas label.
Adapun alat yang digunakan adalah tabung reaksi, tempat roll film dan pH meter.
3. 3 Prosedur Kerja
3. 3. 1 Metode Kalorimeter
·         Memasukkan 1 g contoh tanah halus ke dalam tabung reaksi atau rol film.
·         Menambahkan 3 ml air seling, kocok selama 30 menit, kemudian diamkan selama 5 menit sampai bahan tanah mengendap dan bagian supernatan di atasnya.
·         Memindahkan bagian supernatan ke tabung lain, kemudian celipkan kertas pH selama 1 menit.
·         Membandingkan dengan warna pH baku.
3. 3. 2 Metode Elektrometris
·         Memasukkan 10 g tanah halus ke dalam tabung reaksi atau rol film dan tambahkan air suling 10 ml.
·         Mengoocok selama 30 menit dengan menggunakan mesin kocok, dan diamkan selama 1 menit.
·         Mengukur dengan pH meter.
·         Membuat perbandingan air dan tanah dengan perbandingan 1:2:3:4:5:7:10 dan melihat grafiknya.
·         Jika diinginkan pH KCl 1 N atau pH CaCl2 0,01 M maka air suling diganti dengan larutan tersebut.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1 Hasil
Berdasarkan hasil perhitungan nilai Reaksi Tanah (pH) dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 12; Pengamatan Reaksi Tanah Inseptisols
Jenis tanah                             pH     
Lapisan I                               6,3
Lapisan II                              6,5
Lapisan III                             6,7
4. 2 Pembahasan
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, profil  tanah Inseptisols pada lapisan I memiliki nilai Reaksi Tanah (pH) sebesar 6,3 yang berarti agak masam. Pada lapisan II memiliki nilai Reaksi Tanah (pH) sebesar 6,5. Pada lapisan 3 memiliki nilai Reaksi Tanah (pH) sebesar 6,7 yang berarti agak masam.  pH pada daerah ini adalah agak masam. Hal ini disebabkan karena adanya curah hujan yang tinggi yang menyebabkan pelapukan batuan yang intensif. Dari pelapukan, basa-basa dan Al akan dibebaskan. Basa-basa mudah tercuci, sedangkan Al mudah terjerap bersama ion H. Tinggallah kation Al dan H sebagai kation dominan yang menyebabkan tanah bereaksi masam. Hal ini sesuai dengan pendapat Hakim (1986), yang menyatakan bahwa senyawa Al dan H merupakan sumber ion H+ dalam tanah berkemasaman sedang. Dalam hal ini basa-basa menyumbangkan sedikit OH sehingga Al tidak lagi dalam bentuk ion Al3+, tetapi dalam bentuk Al(OH)2+ atau Al(OH)2+. Sebagian dari ion ini terjerap dan dapat dipertukarkan dan juga dalam keseimbangan dengan larutan. Melalui proses hidrolisis akan menyumbangkan ion H sehingga merupakan sumber kemasaman.
             Melihat kondisi pH pada tanah inseptisols ini yang mempunyai tingkat kemasaman yang bisa dibilang agak masam. Namun, jika berbicara tentang pengaruh pH tanah ini terhadap produktivitas tanaman, ini bersifat relatif. Hal ini disebabkan karena kondisi pH untuk pertumbuhan pada setiap tanaman berbeda – beda. Jadi untuk mendapatkan produktivitas tanaman yang tinggi, maka sebaiknya sebelum melakukan penanaman dilakukan pengukuran pH untuk mencocokkan kondisi pH tanah dengan tanaman.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5. 1 Kesimpulan               
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa tanah inseptisol merupakan tanah yang agak masam, hal ini sesuai dengan hasil pengamatan yang didapatkan yaitu secara berurutan, lapisan 1; 6,3, lapisan 2; 6,5, lapisan 3: 6,7. Terjadinya perubahan pH pada tanah inseptisols dipengaruhi oleh curah hujan.
5.2 Saran
Apabila tanah agak masam / masam, maka sebaiknya ditambahkan dengan kapur agar tanah menjadi netral dan apabila tanah agak alkalis / alkalis, maka sebaiknya ditambahkan dengan belerang / sulfur, agar tanah menjadi netral, karena tanaman dapat tumbuh dengan baik apabila pH suatu tanah netral.

DAFTAR PUSTAKA                     
Anonim, 2008. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin, Makassar.
Hakim, N., M. Yusuf Nyakpa, A. M. Lubis, Sutopo Ghani Nugroho, M. Amin Diha, Go Ban Hong, H. H. Bailey, 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung
Hanafiah. 2004. Dasar–dasar Ilmu Tanah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Hardjowigeno, H. Sarwono., 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Akademika Pressindo, Jakarta.
Pairunan, Anna K., J. L. Nanere, Arifin, Solo S. R. Samosir, Romualdus Tangkaisari, J. R. Lalopua, Bachrul Ibrahim, Hariadji Asmadi, 1997. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Timur.



























Tidak ada komentar: